Tikar Tradisional dan Karpet Masjid

 

Bagi kita yang tinggal didaerah pedesaan tentu tidak asing pernah melihat tikar tradisional yang terbuat dari anyaman rotan. Ketika dipakai untuk duduk memang fungsinya seperti alas, tidak terlalu memberi efek kehangatan. Namun sekarang keberadaan tikar tradisional sudah langka dan semakin ditinggalkan. Keberadaan pengrajin tikar ini semakin sulit ditemukan. Selain tersisih karena keberadaan tikar prabikan, tak banyak lagi pengrajin yang bersedia menjalani kerajinan ini. Seni anyaman dipercaya bermula dan berkembangnya tanpa menerima pengaruh dari luar. Penggunaan tali, akar, dan rotan merupakan asas pertama dalam menciptakan kerajinan tangan anyaman. Bahan- bahan itu tumbuh liar di hutan-hutan, kampung, dan kawasan sekitar pantai.

Berbeda dengan karpet masjid, yang dibawa dan dikembangkan pada awalnya oleh masyarakat persia. Dan sekarang bukan hanya karpet masjid, namun karpet untuk keperluan rumah tangga atau gedung juga akibat pengaruh dari karpet persia yang dulu diperkenalkan ke Indonesia. Memang kualitasnya bagus, lebih hangat serta cocok untuk memberikan kenyamanan. Selain Al-Qur’an dan mukenah bagi muslimah, kita juga akan sangat kenal dengan karpet yang biasanya kita gunakan sebagai alas sholat, yakni sajadah karpet masjid. Ini merupakan budaya islam modern yang lalu dikenal secara luas.

Tidak hanya karena menggunakan bahan-bahan berkualitas dalam pembuatannya sehingga menghasilkan sajadah yang tebal dan nyaman digunakan, juga memiliki motif beragam motif islami yang tebal dan nuansa Timur tengah yang akan membuat keindahan masjid terjaga. Itulah kenapa karpet masjid menjadi pilihan utama.